Archive for May, 2008

Iman (Mat 17:24-27)

Iman yg benar adalah aksi yg benar terhadap objek yg benar.
Kotbah hari ini oleh Rev. Sutjipto Subeno merupakan bagian terakhir dari rangkaian panjang mengenai iman yg dibahas di Matius pasal 17.

Iman yg benar adalah aksi yg benar terhadap objek yg benar. Bila objeknya salah, reaksinya benar itu tidak bisa dibilang kita sudah beriman.. demikian juga bila objeknya benar tetapi reaksi kita salah, tetap saja kita masih belum sepenuhnya beriman.

Perikop ini kelihatan seperti tidak ada hubungannya dengan iman. Dibaca sekilas memang seperti Yesus sedang membahas mengenai bea bait Allah. Hukum bea bait Allah yg disebutkan ini asalnya adalah dari Kel 30:13.
Satuan dirham boleh dibilang setara dengan dinar. Pada zaman itu, upah sehari adalah sebanyak 1 dinar. 2 dirham berarti setara dengan upah kerja 2 hari. Nilai itu tidak terlalu besar (tidak sampai sepersepuluh penghasilan sebulan).

Tapi kalau kita cermati lagi, perikop ini malah merupakan inti dari keseluruhan pasal 17 yg membahas mengenai iman.

Dialog percakapan yg diperlihatkan adalah para penagih pajak datang kepada Petrus dan menanyakan hal mengenai Yesus kepada Petrus.
Kenapa kepada Petrus? Ada banyak alasan.
Mungkin karena Petrus adalah seorang murid.. akan lebih mudah bertanya kepada murid daripada kepada tuannya. Atau karena Petrus memang adalah PIC dari rombongan Yesus.

Yang salah adalah, reaksi Petrus terhadap pertanyaan yg diberikan.
Ketika ditanya, apakah gurumu itu membayar pajak atau tidak? Petrus seperti menjawab asal saja. Dia menjawab “Memang bayar!”

Mengapa Petrus menjawab “Memang bayar”.. ada banyak alasan juga.
Yg paling kita mengerti adalah karena memang sifat Petrus yg memang suka asal jawab.. atau alasan lain yg paling mendasar adalah karena Petrus memberi jawaban seperti yg semua orang lakukan.
Semua orang membayar pajak, tentu saja guruku juga membayar pajak.. demikian pikir Petrus. Dan itu pula yg keluar dari mulutnya untuk menjawab para penagih.

Bagaimana reaksi Yesus mengenai hal ini?
Kemungkinan besar Yesus mendengar dialog ini dan seketika setelah Petrus memasuki rumah, Yesus langsung mengkoreksi Petrus.
Yesus balik bertanya kepada Petrus, “Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?”
Petrus menjawab benar atas pertanyaan ini, “dari orang asing”.

Yesus memberi Petrus pelajaran dengan menyuruh dia memancing ikan, dan dari mulut ikan pertama yg didapatkannya akan ada uang sejumlah 4 dirham untuk membayarkan pajak Yesus dan sekaligus pajak Petrus juga.

Petrus berlaku asal saja.. Pertanyaan yg diajukan adalah pertanyaan mengenai Yesus, tapi jawab yg Petrus berikan adalah pernyataan untuk orang kebanyakan, pernyataan yg semua orang BIASA lakukan. Petrus tidak bertanya dahulu kepada Yesus ataupun berpikir lebih jauh mengenai siapakah Yesus.
Pernyataan dibalik pertanyaan Yesus kepada Petrus adalah pertanyaan mendasar mengenai SIAPAKAH AKU INI. Orang yg disebut Mesias pada pasal sebelumnya, Anak Allah yg hidup, adalah Raja segala Raja.. Raja dunia lah yg seharusnya membayar pajak terhadap Raja segala Raja, bukan sebaliknya.

Kalau memang Petrus benar-benar mengimani bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yg hidup, seharusnya dia bisa memberikan reaksi yg benar terhadap pertanyaan yg diajukan oleh para penagih pajak.
Kita seringkali juga bersikap sama. Kita cenderung untuk melakukan apa yg biasa dilakukan oleh orang lain. Padahal orang-orang sukses adalah orang-orang yg berani melakukan terobosan (melakukan hal yg berbeda).

Tapi dalam melakukan hal yg berbeda pun ada 2 arah, apakah itu semakin menjauh dari pusat atau semakin mendekat ke pusat.
Menjauh dari pusat berarti kita menjadi orang-orang yg eksentrik. Seperti dengan memakai baju-baju model-model yg nyentrik atau mengubah warna rambut bermacam-macam.
Tapi perbedaan juga dapat dilakukan dengan berani maju melawan arah dengan semakin mendekatkan diri ke pusat, seperti misalnya pada zaman semua gereja mencari tafsiran baru gereja Reformed malah semakin memusatkan semua ajarannya pada Alkitab dan tunduk pada firman Allah.

Itulah yg seharusnya kita lakukan bila kita benar-benar beriman, kita harus taat dan menyerahkan diri menjadi hamba.
Tuhan Yesus Kristus adalah raja, bukan pembantu ataupun kawan baik kita yg bisa diajak rundingan. Dan kita adalah hamba-Nya.

Leave a Comment