Archive for SignLanguage

Visual Gesture Communication Workshop

Dalam Workshop ini kita diundang masuk ke dalam dunia kesunyian, yg notabene adalah dunia orang tuli.

Peraturannya adalah:
NO SOUND IN CLASS. Kita dilatih untuk lebih mengandalkan indra penglihatan kita daripada indra pendengaran kita.
NO SIGN LANGUAGE & NO FINGER SPELLING.. Jadi semua hanya berdasar Gesture dan pantonim.

Workshop pertama adalah Introduction.
Akan susah kalau kami semua tidak mengenal satu dengan yg lain.
Kami saling berkenalan dengan memberikan sign name masing2.
Kali ini banyak sekali orang, dan yg ngasih nama bukan hanya gurunya, kita semua urun kasih nama. Lucu sekali.

Ada yg namanya si tomboy – tangan dilipat didepan dada terus muka diangkat.
Ada yg dapat nama si muka panjang – 2 tangan kita seperti memanjangkan muka ke atas dan kebawah.
Ada yg disebut si kurus – tangan seperti menekan pinggang sekecil-kecilnya dan pipi dikempotkan.
Ada yg disebut berwibawa – jari2 dikaitkan di depan perut dan berdiri tegak
Ada yg namanya si rambut poni – tangan seperti menyingkirkan poni di depan dahi.
Ada yg kecil sekali, sehingga dipanggil si pendek.
Ada yg suka makan permen karet, dikenal sebagai pengunyah.
Metta jadi si mata sipit dan iwan jadi si gundul.. huahahahahahaha..

Workshop ke 2 adalah Head, Hand, and Gesture Communication.
Ada beberapa game untuk workshop ini: Eyes Contact, Many Faces, How do you feel today, & Delivering Message.

Ini penting juga diperhatikan.
Dalam Workshop ini yg diajarkan adalah dengan Eye Contact kita harus bisa memanggil orang dari jajaran banyak orang lain.
Dari orientasi sudah dibahas bahwa Eye Contact penting sekali dalam Sign Language.
Mestinya lebih penting eye contact daripada memperhatikan sign yg sedang dibuat, tapi selama ini aku masih aja perhatiin signnya. Habis mikirnya masih lama.

Workshop ke 3 adalah Pantonim.
Untuk workshop ini kita bermain tebak Character, Profession, or Place dengan berpantonim.
Whahahahahaha.. grup kami menang.. yippi..
Habisnya pake strategi pintar sekali.. semakin seneng aja hari ini..

Dan satu yg berkesan adalah ketika kami harus makan siang dengan mengkondisikan diri seperti orang tuli.
Ini benar-benar bikin saya jadi lebih bersyukur mengenai kelebihan kami dan betapa kami memang harus belajar untuk berkomunikasi (menjangkau) dengan orang-orang tuli ini.

Comments (1)

My sign name

Hiks.. waktu pertemuan kita dipadatkan..
Waktu pertemuan kita akhirnya dipadatkan jadi hanya 2 kali pertemuan dengan masing2 pertemuan selama 1.5 jam.

Pelajaran dilanjutkan.
Karena finger spelling agak panjang dan lama, para deaf people punya sign name.
Ini baru oke..
Kita dikasih sign name masing2.

Ada yg temen dengan nama Rain, sign namenya dia seperti hujan.. posisi tangan diciprat-cipratkan disamping kepala.
Ada temen yg mukanya cantik pipinya kemerahan, dia dapat nama isyarat jari kelingking seperti sedang melakukan blush pada pipinya..
Temen yg lain, dia punya tembong di lehernya, dia dapat nama isyarat ya dengan menunjukan dengan kelingking tembong di leher.
Iwan dapat nama si kaca mata.. atao si pipi tembem ya.. huahahahahahaha.. soalnya gerakan jari kelingkingnya tu di bawah kacamatanya.. tapi di pipi bakpaonya juga.. huahahahahhahaha..
Aku sendiri dapet nama M-high.. #M disamping mata trus diangkat tinggi keatas kepala.

hehehehehhehee.. oke juga.

Besok Sabtu diharapkan datang dan mengikuti Workshop seharian.

Leave a Comment

Kelas hari pertama

Iwan bilang kita sekelas gabung dengan beberapa teman.
hehehehehehe.. bener juga.
Kita gabung dengan 3 ce cantik.
2 orang adalah calon guru.
Mereka sedang studi di UST mengenai pendidikan untuk special education.
Ada juga ya sekolah begitu.
Aku juga mau.. :)

Pelajaran pertama kebijakan kelas (class policy)
Ingat.. jangan bicara dikelas.. karena gurumu tidak akan tahu apa yg kamu bicarakan. Dia ga bisa dengar!
Kalo mau bicara, ber “natural sign” lah atau berpantominlah atau chating pake kertas.. atau Finger spelling.

Pelajaran kedua adalah Finger Spelling.

Iwan pernah menganalisa beberapa kamus American Sign Language, dan kata2 yg ada di dalam kamus itu adalah kata2 orang hearing.
Tidak ada istilah asli dari bahasa isyarat, kebanyakan adalah bahasa hearing yg di isyaratkan.

Guru kita juga mengatakan bahwa Finger Spelling penting sekali.
Terutama untuk saling menyebutkan nama..
Dan ternyata memang banyak istilah yg menggunakan speed finger spelling.

Kita mulai belajar untuk menyebutkan nama kita masing2 dengan Finger Spelling.

Leave a Comment

Orientasi FSL

Akhirnya datang hari yg ditunggu2.. the day of FSL Orientation.
Hehehehehe.. kita terlambat 1 jam..
Aku salah pasang jadwal. Awal yg buruk.
Tapi untungnya ga buruk2 amat.

Dikelas ada yg translate.
Jadi ada guru di depan yg kasih materi orientasi dan ada orang di belakang yg ngomong mengartikan gerakan yg dibuat oleh orang di depan.

Semakin interest aja aku dengan program ini.
Program belajar bahasanya bagus sekali.
Selain pertemuan di kelas, kita juga diharuskan terlibat dalam kegiatan2 orang tuli, dan diharuskan mengadakan pertemuan intensif (10 jam) dengan Deaf Buddy.

Peraturan lain adalah larangan untuk bicara.
Nyamm…. apa tahan ya..
Dan peraturan lain yg bikin satu kelas orientasi berceloteh adalah, bahwa hari ini adalah satu2nya kelas dengan translator..
Huahahahahaha.. aku udah mulai membayangkan gimana nantinya.. bahasa tagalog aja masih susah, apalagi ini.
Oke deh.. diterima dulu.

Di orientasi ini juga aku disadarkan bahwa Deaf people tu suatu community tersendiri dengan culture tersendiri.
Mereka bukan orang2 cacat yg butuh kasihan, tapi mereka satu kelompok dengan bahasa mereka sendiri.
Dan kita perlu belajar FSL untuk bisa berkomunikasi dengan mereka.

Bener juga.. baru belakangan aku notice bahwa semua yg ikut kelas FSL adalah hearing semua.
Mereka tujuannya sama, ingin berkomunikasi dengan deaf community.
-cuma iwan aja yg lain kali.. dia tujuannya untuk thesisnya dia.-

What a day.
Semakin aku ga sabar untuk ikut kelas.
Kita apply di kelas yg pertemuannya paling banyak – 3kali seminggu!! -
Aku pikir ini adalah cara yg paling efektif belajar bahasa.. pertemuan sesering mungkin.
Can’t wait till Monday!

Leave a Comment

Enroll FSL di CSB

Udah bulan Januari dan udah semakin dekat untuk proposalnya Iwan.
Iwan masih aja pusing tapi tetep mau ngerjain thesis ini.
Oke deh, akhirnya kita bertekad ngdaftar ke CSB dan ketemu dengan one of secretary, tapi dia hearing.
Jadi ya proses berlangsung seperti biasa.. kita daftar, isi form, tanya2 macem2.
Dan akhirnya harus bayar ke registrar office.

Di registrar office, antrian panjang sekali.
Karena pembayaran adalah salah satu persyaratan penting yg mau ga mau mesti dipenuhi, ya kita ngantri.
Suddenly.. kita di sapa.. hehehehehe.. diajak ngomong bahasa isyarat..
Kayaknya ngarti deh.. dia panjang2in tangannya (antrian panjang) dan ajak kita untuk ngikutin dia.

Selama perjalanan ngikutin dia, aku yg jadi bisu :)
Bingung.. pertanyaan banyak didalam, tapi gimana caranya komunikasi?
Dia ga bisa denger aku :(

Ternyata kita balik ke kantor SDEAS. Dia adalah Secretary dari SDEAS.
Disini akhirnya kita bisa komunikasi.. by chating pake kertas.. huahahahahahaha.. komunikasi satu arah.. tunggu nulisnya selesai, baru bisa dibalas.

Yup.. nice begining.
I can’t wait to attend the first class..
I’m exciting to learn their language, i’m exciting to communicate with them.

Leave a Comment